Usianya masih tergolong sangat muda untuk sederet jabatan yang pernah disandangnya, terutama sebagai anggota Dewan Syariah Nasional dan anggota Dewan Pengawas Syariah di berbagai institusi keuangan. Jabatan-jabatan yang barangkali terdengar angker dan membuat orang membayangkan bahwa sosok M Gunawan Yasni tak kalah “angker” pula: berjenggot panjang dengan sorban putih berjuntai-juntai. Namun, bagi yang pernah bertemu muka dengannya, atau menyaksikan penampilannya sebagai narasumber di televisi, berbagai kesan tadi akan segera tersingkir jauh-jauh.
MGY, begitu teman-teman dekatnya memanggilnya, adalah anak muda “biasa” sebagaimana profesional umumnya yang seusia. Kalau pun ia mengenakan baju koko maka tampak bahwa ia ingin tampil inklusif dengan pilihan model dan motif yang fashionable.
Bahkan, ketika tahu akan difoto, ia buru-buru mengatakan, “Tidak harus pakai baju begini kan, saya bawa jaket kulit kok.” Apa yang tampak pada sosok Gunawan Yasni seolah mewakili apa pendapatnya mengenai ekonomi syariah yang ditekuninya. “Konsep saya, jangan mempertentangkan ini syariah, ini konvensional. Tidak! Sesungguhnya dalam konvensional itu kalau kita kurangi kita kasih pagar-pagar ada lho syariahnya. Jadi syariah itu himpunan bagian dari konvensional.” Seraya mengutip ayat Al Quran yang menegaskan bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangi riba dan menyuburkan sedekah, Gunawan melihat bahwa apa yang terjadi di pasar bisnis sekarang tak lain proses pergeseran menuju terwujudnya kebenaran firman tersebut.
“Terserah orang sekadar ikut-ikutan karena tren bisnis atau memang secara mental spiritual ingin mempraktikkan bisnis secara syariah, toh itu sudah digariskan oleh Allah. Saya lihat proses sekarang, ekonomi kita stagnan, tapi kenapa ekonomi syariah berkembang pesat dari tahun ke tahun, ada proses switching pelan-pelan di masyarakat. Saat orang ingin bersyariah, itu sebenarnya ingin mencapai keseimbangan. Semua yang di muamalah boleh kecuali ada dalil yang melarangnya. Kita kurangi unsur-unsur yang dilarang itu di konvensional hingga akan merasakan yang dulunya konvensional, itu ada syariahnya juga. jadi konsepnya bukan mempertentangkan, tapi memurnikan yang sudah ada. Saya sangat optimistis bahwa ini akan berkembang, bahkan industri inilah yang tak mengalami negatif growth.”
Lahir di Jakarta, 17 September 1969, M Gunawan Yasni menyelesaikan pendidikan S-1 di Jurusan Akuntansi FE-UI dan S-2 di Manajemen Keuangan Prasetiya Mulya. Kiprahnya di dunia ekonomi dan keuangan syariah diawali justru dengan kegagalan. Alkisah, pada 1999, Iwan yang mulai bekerja di Bahana Artha Ventura, anak usaha Badan Pengembangan Usaha Indonesia (BUMN) berniat mengembangkan divisi modal ventura yang dikelola secara syariah. “Alhamdulillah, gagal dan di akhir tahun 2002 ‘pensiun dini’,” kenang dia.
Di sela kesibukannya di dunia bisnis syariah, Iwan aktif mengembangkan apa yang dia sebut sebagai Islamic Base Defensive Art atau IBDA, yaitu seni Pertahanan Diri Islami yang menggabungkan unsur-unsur bela diri dan yoga. “Untuk menyeimbangkan mental, emosional, intelektual dan spiritual di luar sholat dan dzikir yang menjadi kebutuhan utama seorang muslim”, katanya tentang IBDA.
Selain itu, suami dari Asmilia Makmur, alumni FKM UI yang usianya lebih muda 8 tahun darinya itu, cukup kreatif menulis. Belum lama ini, buku dwibahasa (Indonesia dan Inggris) karangannya yang berjudul “Ekonomi dan Keuangan Syariah: Pemahaman Singkat dan Penerapan Ringkas”, diterbitkan.
(Dirangkum dari Niriah.com)