back to niriah

Book

M-Gunawan-Yasni-Books

Intermezzo

 

Oleh:Yusmardi Yasni – The Sensei

ISLAMIC BASE DEFENSIVE ARTS ( IBDA )

Seni Pertahanan Diri Islami ( SENDI Islami )

Pada kesempatan ini, bertepatan dengan HUT saya yang ke 56 tahun (14 Juli 2008), maka tidak ada tulisan mengenai hal-hal spesifik ilmu beladiri. Disini penulis mencoba memainkan jari-jari sesuai kata hati, renungan, daya pikir dan semangat.

CERITA DALAM PUISI :

*** Pengalamanku ***

Guru terbaik adalah pengalaman ……………..

Karena ‘dia’ mengajari cara-cara bertahan hidup ……….

Karena ‘dia’ mengajari cara meningkatkan hidup ………..

Karena ‘dia’ mengajari cara yang baik untuk ……….. mati!

Guru terbaik adalah pengalaman ……………..

‘Dia’ menjadi murah dan menyenangkan, bisa ………..

‘Dia’ menjadi mahal dan pahit + getir, bisa juga ………..

‘Dia’ didapatkan sesuai ilmu dan cita-cita ……….. yang dimiliki!

Ilmu diturunkan kedunia oleh “Tuhan”, Sang Maha Guru ……………..

Ilmu yang terbagi-bagi diterima ‘manusia’, Maha Guru ………..

Ilmu yang terbatas-batas diterima ‘manusia’, Guru ………..

(Keping-keping) ilmu diterima ‘manusia’, ……….. Murid!

Murid ‘membeli’ keping-keping ilmu dari Guru, manusia ………..

Guru ‘membeli’ bagian-bagian ilmu dari Maha Guru, manusia ………..

Maha Guru ‘membayar’ percikan ilmu dari Sang Maha Guru, Tuhan ……………..

Sang Maha Guru ‘menurunkan’ bagian terbesar ilmu dalam ……….. pengalaman!

Murid, manusia yang mempelajari ilmu dan mendapat pengalaman ………..

Guru dan Maha Guru, manusia yang mengajarkan ilmu untuk hidup ………..

Sang Maha Guru,Tuhan yang menyempurnakan ilmu dan pengalaman hidup,

Kepada siapa harus dipertanggung jawabkan ……….. segala ilmu dan pengalaman!

Guru terbaik adalah pengalaman …………….

 

Jakarta, 14 Juli 2007

(di usia yang ke 55 tahun)

Yusmardi Yasni

 

Ilustrasi :

Kebanyakan orang berpikir bahwa ilmu didapat  melalui suatu jenjang pendidikan, tepat sekali!. Tetapi pendidikan ‘kan mahal?. Apalagi di Indonesia pada saat dan kondisi ekonomi yang seperti sekarang ini, buat makan sehari-hari saja sudah susah …. apalagi buat bayar sekolah yang mahal-mahal. Sekolah diperguruan tinggi dan menjadi Sarjana, mungkin yang berhak untuk itu hanya orang kaya dan anaknya saja!.

Namun lucu juga, kalau mengkhayal: seandainya semua orang menjadi sarjana dan semuanya ingin jadi pejabat atau kerja kantoran atau jadi orang kaya atau jadi boss …. lalu siapa yang nggarap sawah atau menanam sayur atau memelihara sapi, kambing, ayam, dan lain-lainnya?. Siapa yang nyapu jalan atau ngangkut sampah atau bikin jalan aspal dan got ……. robot ngkali ya?.

Mungkin kita harus belajar dari paham nenek moyang kita dari zaman baheula, yang mungkin juga sudah dianggap kuno alias ketinggalan zaman. Kali ini akan dipaparkan tentang Adat Urang Minangkabau tempo doeloe mengupayakan jenjang pendidikan bagi anak dan kemenakannya ….. adat nan tak lakang dek paneh, tak lapuk dek hujan!.

Jenjang pendidikan yang praktis dan minimalis ini diusahakan oleh orang tua atau bisa secara gotong royong oleh para pamannya ( karena secara adat kalau ada anak yang tidak sekolah, maka yang ditanya orang ….. siapa pamannya?).

Jenjang pendidikan yang dimaksud adalah sebagai berikut:1. Dikumandangkan azan ditelinganya, sewaktu baru lahir kedunia.2. Diajarkan agama, sembahyang dan mengaji semasa kecil dan remaja.3. Diajarkan baca-tulis, bekerja tangan dan berdagang yang baik.4. Diajarkan ilmu silat untuk membela diri.5. Diizinkan untuk merantau mencari ilmu yang berguna dan rezeki yang halal untuk dibawa pulang kekampung halaman.

Jadi jelas terlihat disini bahwa yang utama harus dimiliki adalah iman dan takwa kepada Allah swt. dan setelah itu adalah ilmu pengetahuan & keterampilan dasar agar dapat berkomunikasi dengan masyarakat luas dan memiliki kemampuan mencari nafkah untuk hidup (mungkin analoginya pada masa sekarang ini adalah wajib belajar selama 9 tahun, dimulai usia 6 tahun). Dan tidak lupa adalah latihan/olah raga beladiri untuk membentuk tubuh yang sehat/kuat dan mental yang tangguh serta keterampilan beladiri menghadapi para penjahat. Dan setelah dianggap cukup bekalnya, maka diperbolehkan mencari ilmu yang lebih tinggi ataupun mencari rezeki, membangun meningkatkan ekonomi keluarga dikampung halaman. Merantau dan bergantung pada ikhtiar dan menerima takdir Illahi dengan ikhlas dan ridho, berpantang putus asa!. Ini adalah jenjang pendidikan yang realistis, praktis dan dinamis manusiawi warisan orang tua zaman baheula, mungkin cukup relevan bagi banyak orang dizaman modern yang serba canggih yang bisa membuat banyak orang berkhayal diawang-awang ( eh, ‘ntar dulu …….  berkhayal ‘khan hak asasi orang, gratis lagi!). Sebagai penambah khasanah, sedikit cerita tentang ‘kerajaan semut’ Hashemite Kingdom of Yordania yang penduduknya memiliki kemiripan adat dan etos kerja yang mirip dengan Adat Urang Minagkabau yang sangat peduli dengan jenjang pendidikan dan merantau demi ilmu dan rezeki. Pantauan kami pada 1986, berpenduduk +/- 4 juta manusia dimana +/- 2,8 juta manusia adalah sarjana dari berbagai cabang ilmu yang umumnya didapat dalam perantauan. Dan hampir 2 juta dintaranya bekerja dinegeri lain, mengirimkan  sebagian pendapatan mereka kenegerinya sebagai investasi untuk membangun bangsa dan negara yang maslahat. H.K.Yordania terkenal dengan sistem koperasinya yang sangat dominan sebagai pelaku ekonomi, contoh : Civil Service yang menguasai 70% dari pengadaan dan pemasaran SEMBAKO dan kebutuhan strategis masyarakat yang lain melalui general store yang besar ditiap kota, milik koperasi sendiri. Mungkin karena tanah air mereka miskin akan sumber daya alam ( hanya rock phosphate dan pupuk KCl ), jadi setiap Rupiah ….. eh maaf, mata uangnya Dinar dari emas murni yang sampai sekarang nilai tukarnya paling tinggi didunia, jadi harus dikelola dengan sangat hati-hati dan jujur/transparan.

PUISI DALAM CERITA :

Setahun yang lalu, seorang teman memberi sebuah kitab suci Al-Qur’an dalam format Utsmany sebagai hadiah ulang tahun ke 55, disertai anjuran untuk membaca surah Ar-Rahmaan (QS 55) sesuai usia pada waktu itu. Dengan rasa terima kasih atas semua itu, sesampai dirumah dibuka dan dibandingkan dengan kitab suci Al-Qur’an semua yang ada dirumah (berbagai format) dan terlihat perbedaannya …… kemudian ditaruh pada rak tertinggi pada lemari buku, jadi lupa deh karena kesibukan sehari-hari. Pada bulan Ramadhan (tahun 2007), karena ada acara silaturrahmi keluarga dikota Semarang dan dapat giliran jaga rumah ………. ingat mengaji pake Al-Qur’an baru dan pertama-tama ingat pesan sipemberi hadiah. Seingat saya surah ini seringkali dibacakan oleh para anak yatim-piatu yang diundang pada acara syukuran atau ulang tahun keluarga besar kami, atau mungkin juga pada keluarga orang lain. Agar lebih paham artinya, maka saya ambil buku terjemahan dan membaca terjemahan surah Ar-Rahmaan.

Lewat pertengahan malam saya terbangun kemudian berwudhu, ditengah keheningan  malam saya mengaji dengan perlahan-lahan dan terasa berat untuk menyelesaikan bacaan, karena terputus oleh suatu perasaan yang sukar dilukiskan lewat kata/kalimat setiap kali membaca ayat :”Fabiayyi aalaa ‘irabbikumaa tukazzibaan” ( maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ) …… bergetar seluruh kalbu serta merebaklah air mata, 31 kali Allah swt. bertanya dalam surah itu, sudahkah aku dapat menyadarinya dan bersyukur atas semua nikmat yang diberikanNya?.

Setelah selesai mengaji dilanjutkan dengan sholat tengah malam (al-lail), terasa sekali sembahyang-ku lain sekali dengan yang selama ini kujalankan secara rutin ……………… terasa begitu nikmat, tenteram, damai dan terasa begitu dekat dengan Sang Pencipta.

Setahun telah berlalu dan aku mulai dapat menarikan jari-jari ini untuk melukiskan sedikit rasa dan pengalamanku diusia yang ke 55 sampai yang ke 56. Sejak terjadinya peristiwa ‘terasa’ inilah sembahyang-ku terasa lebih berisi dan kemampuan/kepekaan ‘iqra’ lebih meningkat terang, demikian juga dengan meningkatnya rasa kesabaran. Memang kalau kita membicarakan tentang rahasia-rahasia cahaya ilham atau ilmu laduni itu cukup rumit, namun dapat berpedoman sebagaimana diluruskan dalam Al-Qur’an, surah Asy-Syam (QS 91: 7,8,9 dan 10) sebagai berikut :

“Demi jiwa serta penyempurnaannya (penciptaannya),”

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (kefasikan) dan ketakwaannya,”

“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,”

“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”

Merujuk terutama kepada Imam Besar Al-Ghazali, maka manusia akan memperoleh cahaya ilham melalui 3 (tiga) cara, yaitu :

Pertama : mendapat anugerah dari Allah swt., ini tentunya suatu keberuntungan dan hanya bagi orang-orang tertentu yang dikehendakiNya.

Kedua    : melalui jalan riyadhah/mujahadah (belajar dan berlatih) yang benar dan disertai proses muraqabah (mendekatkan diri  kepada Allah swt.).

Ketiga    : melalui jalan tafakkur, jika jiwa belajar dan senang pada suatu ilmu dan kemudian berpikir untuk meningkatkan obyek yang diketahuinya dengan metode yang benar, maka terbuka bagi jiwa  pintu ilmu yang belum pernah diketahuinya sebelumnya.

Ilustrasi :** Yang baik-baik saja ! **Diberi mata, maka melihatlah pada …………Diberi telinga, maka mendengarlah pada ………..Diberi otak, maka berpikirlah ………..Diberi mulut, maka berbicaralah ………..Diberi hati, maka tanyailah untuk pertimbangan ………..Yang mendapat ridho Allah swt., tentunya yang baik-baik saja !*****************CERITA DALAM CERITA :

Agama Islam selalu menyuruh ummatnya agar mencari ilmu untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir, ada banyak ayat/surah dalam Al-Qur’an yang tersurat dan tersirat mengenai hal ini, dan juga ada banyak hadits Rasulullah dan Nabi Muhammad saw. mengenai hal ilmu. Dalam  hal ini Allah swt. berfirman sebagai berikut ini :

“……… Katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?.Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

(Surah Az-Zumar, QS 39: 9)

“……… Allah meninggikan orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat ………”.

(Surah Al-Mujaadalah, QS 58: 11)

Jadi sebagai muslimin/muslimat wajiblah menuntut ilmu tanpa batasan umur, selama hayat dikandung badan dan akal masih berfungsi. Hal ini tersurat dan tersirat juga pada hadits Rasulullah dan Nabi Muhammad saw sebagai berikut :

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang dipikulkan kepada pundak setiap pribadi ummat Islam, baik laki-laki maupun perempuan”.

(diriwayatkan HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

Pada zaman keemasan kekhalifahan Islam diabad ke-7 sampai ke-14 yang silam, para ilmuwan Islam berhasil membina suatu peradaban Islam yang merupakan peradaban maju dibandingkan peradaban Eropa/Western pada waktu itu, hal ini dimungkinkan karena menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap pribadi muslim bahkan  dianggap sebagai bagian dari ibadah. Pada waktu ummat Islam berhasil memiliki peradaban maju berdasarkan ‘tiga pilar’, yaitu : ilmu pengetahuan, filasafat dan kesenian. Tetapi mengapa sekarang menjadi tertinggal dari Western/Eropa?. Jawabannya terpulang pada diri kita masing-masing, apakah kita mau kembali menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai penuntun hidup didunia dan bekal akhirat nanti?. Sebagaimana difatwakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalin r.a: Ilmu adalah lebih baik daripada harta.Karena ilmu akan menjaga anda, sedangkan anda harus menjaga harta. Dan harta akan habis/berkurang kalau dibelanjakan/dibagi-bagi, sedangkan ilmu semakin bertambah kalau dibagi-bagi/diamalkan.

Sebagai ummat Islam yang mewarisi “2 pusaka sakti”, yaitu: Al-Qur’an dan Hadits yang tak tertandingi didunia dan sebagai bekal diakhirat, siapa yang akan mulai untuk belajar dan bekerja keras menjadi ilmuwan Islam?. Jawabnya adalah IBDA bi’nafsik, mulailah dari dirimu sendiri!.

Mungkin intermezzo sampai disini dulu ya, lain kali kita sambung lagi dengan topik-topik yang lebih bermutu. Wabillahi taufik walhidayah, wassalamu alaikum w.w.

 

Featured : Yusmardi Yasni/Muslim Ghafarrah

NB: Salam hormat untuk kawan-kawan Thaifah Manshurrah dimana saja berada.

Post DIPOSTING OLEH Reza Agusti | August 17, 2008

Leave a Reply