back to niriah

Book

M-Gunawan-Yasni-Books

Kenaikan harga BBM dan prospek bisnis produk segar

Tanpa kenaikan harga BBM, harga-harga produk pangan, terutama untuk produk segar dan bahan pokok lainnya telah mengalami kenaikan akibat pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan pasokan produk.

Bahkan, di beberapa negara produsen kebijakan untuk memacu sektor industri nonpangan malah cenderung menurunkan produksi produk pangan. Selain itu, faktor pemanasan global juga menjadi pemicu kegagalan panen produk. Akibatnya, dunia dilanda krisis pangan dan dibarengi pula dengan krisis energi.

Tak luput pula, hal itu terjadi di Tanah Air. Indonesia yang semula mampu berswasembada pangan, bahkan mengekspor berasnya ke mancanegara, kini menjadi negara pengimpor meski brand sebagai negara agraris masih melekat.

Hal serupa berlaku di minyak bumi. Dulu sebagai negara pengekspor minyak, Indonesia berpesta-pora jika harga minyak mentah dunia melonjak. Namun, hal itu tidak berlaku lagi walaupun Indonesia masih berstatus sebagai anggota OPEC.

Dari analisis Bank Dunia, Indonesia masih dapat dikatakan cukup baik dengan tingkat kenaikan harga pangan tidak terlalu tinggi, karena masih dapat dikontrol baik. Namun, amat disayangkan bahwa alam kita yang kaya dengan kandungan minyak, eksplorasi yang dilakukan pemerintah melalui badan usahanya (Pertamina) tidak maksimal dan tidak dapat mengimbangi permintaan domestik yang naik begitu cepat.

Konversi yang dilakukan sebagai antisipasi keadaan juga tidak dapat mengimbangi perubahan tersebut walau telah diformat rencana jangka pendek dan jangka panjangnya.

Subsidi dengan jumlah lebih dari Rp200 triliun memang sangat mengancam stabilitas ekonomi dan politik negara. Inilah kondisi dilematis yang akan dihadapi jika BBM dinaikkan hingga 30% yang diperhitungkan dapat mengurangi subsidi BBM sebesar Rp35 triliun atau kira-kira 15% dari total subsidi saat ini.

Dana bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat miskin memang akan diberikan sebesar Rp100.000 per kepala keluarga perbulannya. Semua pihak berharap program tersebut dapat berjalan baik dibandingkan dengan pelaksanaan 2005 lalu.

Persoalannya, apakah hal ini dapat menyelesaikan masalah dengan tuntas? Tentu saja tidak karena banyak sektor lain yang juga terkait atau terpengaruh kenaikan harga BBM. Sektor pangan dan transportasi merupakan salah satu sektor penting yang akan terkena dampak serius.

Selama ini, kita selalu berfokus ke masalah transportasi umum yang berdasarkan data terungkap bahwa 30% biaya hidup manusia dihabiskan untuk transportasi. Padahal sebagai negara kepulauan, penyebaran pangan dan kebutuhan pokok sangatlah penting jika kita tidak ingin mendengar peristiwa gizi buruk di daerah.

Kenaikan harga BBM akan banyak memengaruhi pemasokan kebutuhan tersebut sehingga tidak tertutup kemungkinan pengiriman ke daerah terpencil miskin pangan akan dijauhi oleh distributor karena menyangkut dana distribusi yang kian mahal.

Revitalisasi lahan pertanian juta hektare sudah pula dikumandangkan oleh Presiden yang diikuti oleh disepakatinya kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang yang memasukkan sektor pertanian dalam klausul perjanjian tersebut.

Bila dilihat dalam dua tahun terakhir ini, masih sedikit investor yang berminat menggarap proyek revitalisasi itu dan lebih memilih menanamkan dana di sektor lain, misalnya teknologi informasi.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita lebih memfokuskan diri ke sektor pangan dan energi. Apabila tidak ditangani dengan baik, kedua sektor vital ini akan menimbulkan dampak serius dalam jangka panjang dan memengaruhi kualitas hidup manusia.

Untuk sektor pangan, infrastruktur merupakan hal penting untuk dibenahi jika distribusi pasokan produk ingin dicapai hingga ke pelosok. Selain itu, perlu dipertegas kebijakan dari pemerintah pusat agar hal ini dapat menjadi prioritas pembangunan pemerintah daerah.

Penulis berpandangan sudah saatnya pula dibangun gudang-gudang penyimpanan produk yang dapat menahan laju pembusukan dan pemasokan produk dapat terus dilakukan walau pada off-season. Fasilitas pergudangan mempunyai potensi mengurangi penyusutan produk jika disimpan secara baik.

Saat ini dari data yang ada, penyusutan produk segar pertanian dapat mencapai 40% pada musim panen (peak season) dan dapat menurunkan pendapatan petani serta pedagang kecil dan distributor.

Harga produk anjlok karena kualitas yang tidak baik, bahkan di sektor hasil perikanan dapat mencapai 50%. Di sinilah letak permasalahan utama bagi negara-negara produsen, yaitu bagaimana manajemen pascapanen produk dijalankan di lapangan agar mutu produk terselamatkan agar aman dikonsumsi.

Bagi produk segar, rantai dingin yang andal merupakan sistem pengawetan produk yang paling aman dilakukan, mulai dari
pascapenen, transportasinya, hingga ke gudang penyimpanannya. Perlu diakui bahwa Indonesia masih harus terus berbenah diri di sektor ini.

Kita tidak boleh kalah dengan negara lain seperti China, yang merencanakan menginvestasikan proyek dimana rantai dingin berperan seperti supermarket, transportasi, dan gudang di sentra pengumpul ataupun produksi dengan nilai sedikitnya US$5 miliar dalam lima tahun mendatang. China serius melakukan hal ini untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.

Dengan dukungan rantai dingin yang andal, nilai tambah produk diharapkan dapat menekan kenaikan rata-rata harga produk dan lebih menguntungkan produsen (petani) domestik. Jika revitalisasi lahan memerlukan waktu recovery yang cukup lama, sektor ini relatif lebih cepat dalam mengamankan stok pangan, terlebih lagi untuk meredam dampak kenaikan harga BBM.

 

Oleh Hasanuddin Yasni
Direktur Eksekutif Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia, Opini, Senin 26/05/08

Post DIPOSTING OLEH Reza Agusti | June 4, 2008

Leave a Reply