Malayan Banking Bhd atau Maybank, bank terbesar negeri jiran yang dimiliki Pemerintah Malaysia, menyiapkan dana 2,7 miliar dollar atau setara Rp 24,5 trilliun untuk mengakuisisi 100 persen saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk. Dana itu hampir sebanding dengan pendapatan Pemerintah Indonesia dari dividen seluruh BUMN pada tahun 2007.
Aksi korporasi yang dilakukan Maybank dengan dana sebesar itu tentu cukup mengejutkan. Maybank terkesan teramat royal membelanjakan uangnya.
Betapa tidak, Maybank menghargai saham Bank Internasional Indonesia (BII) sebesar 4,5 kali buku (price to book value / PBV ). Ini merupakan penjualan bank dengan PBV tertinggi di Indonesia, bahkan di Asia.
Acting Chief Executife Officer Maybank Aminudin Md Desa melalui rilisnya mengatakan, pihaknya tertarik membeli BII karena melihat penetrasi industri perbankan di Indonesia masih rendah sehingga potensi untuk bertumbuh amat terbuka dalam jangka panjang.
Strategi Maybank adalah melakukan investasi pada pasar yang memiliki pertumbuhan tinggi. Dengan aksi ini, jelas Aminuddin, Maybank akan mentransformasikan prospek pertumbuhannya ke Indonesia. Ini juga merupaka strategi Maybank untuk memperluas jangkauan operasionalnya dikawasan regional.
Dengan membeli BII, yang merupakan salah satu bank papan atas Indonesia, Maybank telah melakukan penetrasi yang signifikan pada industri perbankan Indonesia.
“BII sendiri memiliki prospek yang amat bagus untuk berkembang karena memiliki posisi yang kuat, jaringan yang luas, dan basis nasabah yang berkualitas,” ujar Aminuddin.
Pengamat perbankan, Drajad Wibowo, menilai, harga penjualan BII terlampau mahal. Mungkin Maybank melihat adanya potensi sinergi bisnis antarsektor dan antarwilayah yang besar sehingga mereka berani membayar mahal,” kata Drajad.
Sinergi antar sektor, misalnya, bisa tercipta antar bank, perkebunan sawit, pertambangan, dan konsumsi. Ini karena investor Malaysia juga banyak yang menanamkan modalnya pada industri perkebunan dan pertambangan Indonesia.
Adapun sinergi antawilayah bisa tercipta, misalnya, antara Kalimantan Barat dan Serawak/Sabah serta Sumatera Utara dan Semenanjung Malaya. “Indonesia dilihat Malaysia sebagai raksasa yang masih tertidur,” kata Drajad.
Ekonom Iman Sugema menilai tingginya harga penjualan BII mencerminkan prospek perbankan Indonesia yang amat cerah ke depan. Selain itu, berbisnis bank di Indonesia juga sangat menguntungkan sebab profibilitas bank di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia .
Kendati demikian, tingginya harga penjualan BII tak seluruhnya merefleksikan potensi dan kualitas BII.
“Harga itu sebenarnya juga mereflesikan persaingan bisnis antara Malaysia dan Sngapura yang selama ini bisa diibaratkan sebagai musuh abadi,” katanya.
“Dengan akuisisi II dengan harga yang spektakuler itu, Malaysia ingin menunjukan mereka lebih hebat dari Singapura dalam berinvestasi,” katanya.
Timur Tengah
Terlepas dari alasan-alasan mengapa akuisisi tersebut terjadi, menarik jika dipertanyakan mengapa Malaysia bisa memiliki dana yang sangat besar?
Akuisisi yang amat royal tentu tidak akan dilakukan jika Malaysia sulit mendapatkan uang. Melimpahnya sumber dana Malaysia tidak terlepas dari posisi negara ini sebagai pusat keuangan syariah di Asia Tenggara.
Pengamat keuangan syariah, M. Gunawan Yasni, beberapa waktu lalu menjelaskan, saat ini Malaysia menguasai 80 persen instrumen keuangan syariah yang beredar di pasar global. Malaysia memiliki infrastruktur syariah yang memadai, mulai dari institusi keuangan syariah yang andal, produk keuangan syariah yang beragam, sampai peraturan yang pro-pasar. Itu semua membuat Malaysia menjadi tempat investasi syariah yang diburu investor global.
Pada saat bersamaan, investor Timur Tengah yang sedang menikmati keuntungan dari melambungnya harga minyak dunia sedang mencari tempat investasi baru di luar Amerika Serikat dan Eropa yang sudah jenuh.
Karena tak banyak negara Asia yang memiliki infrastruktur keuangan syariah memadai, termasuk Indonesia, Malaysia akhirnya menjadi pilihan utama. Masalahnya, sistem keuangan syariah tidak seperti sistem keuangan konvensional yang memungkinkan uang hanya menjadi hot money. Dalam sistem keuangan syariah, setiap keping uang harus mempunyai dasar aset (underlying asset). Artinya, investasi syariah mutlak digunakan untuk kegiatan sektor riil.
Inilah yang menjadi kendala Malaysia. Likuiditas dari Timur Tengah sangat berlimpah, tetapi investasi di sektor riil kian terbatas mengingat Malaysia sudah cukup maju dalam segala hal.
Karena itu, Malaysia melirik Indonesia yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan amat besar dimasa datang. Malaysia pun memosisikan diri menjadi terminal aliran modal dari Timur Tengah ke Indonesia.
Malaysia tetap akan mendominasi keuangan syariah dunia meskipun sebenarnya mereka menginvestasikan dana tersebut ke Indonesia. Yang pasti, dengan membeli BII, Malaysia mulai menggeser hegemoni Singapura di industri perbankan Indonesia. Sebelumnya, investor Malaysia telah menguasai Bank Niaga, Bank Bumiputera, dan Maybank Indonesia.
Published by KOMPAS Daily, 27 March 2008 (blogged by Reza Agusti)
April 8th, 2008 at 8:58 pm
Spectacular articles and photos!